Minggu, 26 Februari 2012

Menjaga Amanah Allah SWT

Allah SWT berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu menghianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)
Sebab-sebab turunnya ayat ini ada beberapa versi, antara lain riwayat dari Al-Kalbi, bahwa Abu Lubabah Bin Abdul Mundzir diutus oleh Nabi SAW pada Bani Quraidzah (sebuah suku Yahudi Madinah yang telah melanggar perjanjian waktu perang Khandak), sebab dia selama ini adalah sahabat baik dari suku tersebut. Dia juga menitipkan harta dan anak-anaknya pada Bani Quraidzah.

Setelah bertemu dengan para pemuka Yahudi itu, dia sampaikan usulan Nabi SAW agar mereka menyerah pada Sa’ad bin Mu’adz yang diperintah Nabi SAW untuk menangani kasus mereka. Lalu pemuka Yahudi bertanya, “Jika mereka turun, apa kira-kira hukuman yang dijatuhkan pada mereka”. Lalu dengan tidak pikir panjang Abu Lubabah menggesekkan tangan ke lehernya, mengisyaratkan akan dibunuh semua. Kelancangan Abu Lubabah itulah yang ditegur oleh ayat di atas.

Setelah turun ayat ini, rasulullah SAW memanggil isteri Abu Lubabah dan bertanya, “Apakah Abu Lubabah tetap mengerjakan shaum dan shalat. Dan adakah dia mandi junub setelah bersetubuh?” Isterinya menjawab, “Dia shaum, shalat dan mandi junub, bahkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya”.

Nabi bertanya demikian, karena meragukan keimanannya, sehingga isterinya ditanya ditanya tentang kehidupannya, apakah dia Islam atau munafiq. Isterinya menjawab pasti bahwa dia shaum, shalat dan setelah bersetubuh dia tetap mandi junub. Ini menunjukkan keimanannya baik. Tapi ia telah berkhianat, lancang dan membuka rahasia, yang merupakan perbuatan orang munafiq.

Abu Lubabah memang bukan orang munafiq, tetapi karena kelancangannya dia telah dicap sebagai penghianat. Setelah turun ayat ini, Abu Lubabah merasa sangat menyesal, sebab Allah sendiri telah menuduhnya sebagai pengkhianat, kemudian dia segera bertaubat.

Menurut riwayat Qotadah dan Az-Zuhri, taubatnya itu lain sekali. Dia bersumpah untuk tidak makan dan minum, sampai diberi ampun oleh Allah. Kemudian dia mengikatkan diri di tonggak masjid sampai sembilan hari, tidak makan dan tidak minum sampai jatuh pingsan.

Setelah Allah menerima taubatnya, beberapa orang datang memberitahu bahwa Allah telah menerima taubatnya dan mereka hendak melepas ikatannya. Tetapi Abu Lubabah bersumpah bahwa dia tidak mau dilepas kecuali oleh Rasulullah SAW. Beliau pun melepas ikatannya. Setelah bebas Abu Lubabah berkata, “Ya Rasulullah, saya bernadzar untuk mensedekahkan seluruh harta saya”. Beliau menjawah, “Jangan semuanya, cukup sepertiga saja”.

Walaupun ayat ini turun mengenai Abu Lubabah, tetapi maksudnya umum. Ayat ini menjadi peringatan keras bagi umat Islam untuk teguh dan setia dalam memegang amanat. Tak ada artinya shalat, puasa taat beribadah apabila seseorang tidak setia kepada amanah.

Kata amanah mempunyai akar kata yang sama dengan kata iman dan aman, sehingga mukmin berarti beriman dan mendatangkan keamanan, juga memberi dan menerima amanah.

Oleh para ulama amanat itu dibagi menjadi 3 (tiga) :

1. Amanat manusia pada dirinya sendiri.

Menurut Ar-razi, termasuk dalam hal ini adalah amanat dalam memilih yang baik bagi dirinya untuk kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Termasuk menuntut ilmu, bermata pencaharian, tidak menganggur, menjaga kesehatan, berobat kalau sakit, menjaga diri dari penyakit menular dan segala hal yang merusak tubuh.

2. Amanat terhadap sesama manusia.

Termasuk menyampaikan kiriman pada yang berhak, menyimpan titipan sampai yang punya datang meminta, menyimpan rahasia, menjaga hubungan silaturahim, mentaati undang-undang, memelihara keamanan rakyat dan sebagainya.

3. Amanat manusia dari Tuhannya.

Amanat inilah yang disinggung dalam firman Allah. “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan memikulnya dan merasa berat, dan dipikul amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan bodoh”. (QS. Al-Hasyr: 72)

Menurut Al-Qaffal, ayat ini hanya perumpamaan, yang ditekankan di sini ialah perhatian kita terhadap amanat yang Allah letakkan di atas pundak manusia.

Al-Qurtubi menyalin dalam tafsirnya, “Ini adalah kata majaz atau kiasan. Langit, bumi dan gunung-gunung merasa berat memikul (apalagi manusia), sebab itulah manusia hendaknya berhati-hati”.

Ada beberapa pendapat ulama tentang maksud amanah pada ayat tersebut, yaitu : Agama, hal-hal yang difardlukan, batas-batas yang ditentukan oleh Allah, taat kepada Allah, shalat, puasa, wanita yang diamanati menjaga kehormatannya, dan mandi janabat.

Mengomentari pendapat-pendapat ini, Ibnu Katsir berkata, “Semua pendapat ini tidak bertentangan satu sama lain, bahkan semua kembali pada satu titik persamaan bahwa amanat ialah semua pembebanan hukum, dan menerima beban itu dengan melaksanakan semua perintah dan menjauhi larangan dengan segala konsekuensinya. Jika ia melaksanakan beban itu, diberi pahala dan ganjaran, sebaliknya, jika ia tinggalkan, ia akan dihukum dan disiksa”.

Dalam kehidupan sehari-hari, amanat Allah kepada manusia itu antara lain :

1. Ilmu pengetahuan yang Allah berikan pada manusia. Amanah berupa ilmu ini harus kita tunaikan dengan mengamalkan dan mengajarkannya pada orang lain. Rasulullah SAW mengecam keras orang yang berkhianat dalam hal ilmu tersebut. Dalam sebuah hadits beliau bersabda : “Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu pengetahuan, lalu menyembunyikannya, niscaya dia akan dikekang di hari kiamat dengan kekangan yang terbuat dari api neraka.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud)

2. Pekerjaan atau usaha tempat kita mencari rizki adalah amanat Allah yang harus ditunaikan dan dipelihara sebaik-baiknya dengan menepati waktu dan menjaga kejujuran. Jadi menyia-nyiakan waktu dalam tugas kerja ialah khianat. Begitu juga korupsi, menyalahgunakan jabatan, manipulasi data dan sebagainya adalah khianat. Kalau semua pegawai jujur di dalam menunaikan amanat mereka, pastilah suatu bangsa akan maju pesat dan rencana pembangunan akan berjalan lancar sehingga target yang telah ditentukan akan mudah tercapai.

3. Isteri atau suami adalah amanat Allah, oleh karena itu masing-masing harus memelihara satu sama lain. Suami harus memelihara hak-hak isteri, seperti memberinya nafkah dan membimbing agamanya. Sebaliknya isteri harus memelihara hak-hak suami, seperti mentaati dan melayani sebaik-baiknya.

4. Anak yang telah dikaruniakan Allah pada kita adalah amanat. Untuk memelihara amanat ini orangtua harus menunaikan hak-hak anak dengan sebaik-baiknya. Abul Hasan meriwayatkan bahwa suatu hari seseorang bertanya pada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, apakah hak anakku terhadapku?” Nabi menjawab, “Engkau baguskan nama dan pendidikannya, lalu kau tempatkan ia di tempat yang baik”.

5. Harta, rumah, pakaian dan semua yang Allah izinkan untuk kita adalah amanah. Semuanya harus kita tunaikan haknya dengan dikeluarkan sedekah dan zakatnya serta kita rawat dan pelihara dengan baik.

Apabila semua amanah tersebut kita tunaikan maka kita akan memperoleh kekayaan rohani yang tak ternilai banyaknya.

Rasulullah SAW bersabda :
“Empat perkara yang jika engkau pelihara baik-baik, kayalah engkau walaupun banyak kemegahan dunia yang tidak engkau capai, yaitu: Memelihara amanat; Berkata jujur; Perangai yang baik; Mengendalikan kerakusan makan.” (HR. Ahmad dari Abdullah bin ‘Amr)

Jumat, 27 Januari 2012

Hati-hati Dengan Ampunan Allah Dan Adzab Allah

Kebahagiaan tertinggi yang akan dialami manusia ialah ketika dia masuk kedalam surga kemudian medapatkan salam dari Tuhan, salaamun qawl-an mir rabb-i'l-rahiim "salam sebagai ucapan dari Tuhan Yang Maha kasih".

Disitu ada kaitan antara salam dengan rahmah. Allah mengucapkan salam karena Dia Maha Kasih dan Rahmah. Itulah sifat Allah yaang paling banyak disebut dalam AlQuran dan wacana keagamaan.

Dalam alQuran disebutkan bahwa satu-satunya sifat Allah yang diwajibkan atas dirinya adalah rahmah.

Wakataba 'alaa nafs-ihi 'l-rahmah, artinya, "Allah mewajibjkan atas diri-Nya sifat rahmah". Rahmah atau kasih Allah itu meliputi segala sesuatu. Sama dengan Ilmu. Ada dua sifat Allah yang dinyatakan meliputi segala sesuatu : Rahmah dan Ilmu

Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu (QS 7:56)

Rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu(QS 40:8)

Secara sempurna sifat-sifat Allah terkumpull dalam al-asmaa al-husnaa sebanyak 99. Itulah deretan sifat-sifat Allah. Sifat-sifat itu mencakup bahasa sehari-hari kita - watak ekstrim kanan sampai watak ekstrim kiri, sifat ekstrim misalnya kita ambil yang serba keras, Allah itu Jabbaar (pemaksa), Qahhaar (diktator, hampir-hampir tiran), mutakabbir (sombong) dan dzuntiqaam (pendendam). Tetapi disisi lain sifat Allah lunak dan lembut, misalnya Waduud (santun), Rahiim (pengasih), Ghaffaar (pengampun) dan seterusnya.

Mengapa ada sifat-sifat yang bertentangan seperti itu?

Karena Allah adalah zat yang Maha Tinggi yang tidak dapat digambarkan. Gambaran apapun pasti kurang. Kalau gambaran kita kepda Allah hanya sebatas zat yang Maha Pengampun dan Penyayang saja maka berbahaya. Kita akan menganggap Allah biasa-biasa saja. Kemudian kita menjadi sembrono. Kita akan mengalami kelembekan moral. Karena kita beranggapan bahwa apapun yang kita lakukan pasti akan diampuni oleh Allah.

Tetapi sebaliknya, kalu kita menghayati Allah hanya sebagai zat yang serba keras: jabbaar, mutakabbir, qahhaar dan dzuntiqaam, maka kita akan kehilangan harapan (pesimis) kepada Allah. Itu pun suatu malapetaka keruhanian.

Karena itu al-Quran mengatakan "serulah Allah dengan harap-harap cemas (khawf-an wa thama'-an)". Jangan memastikan ampunan Allah, tapi juga jangan putus asa dari kemungkinan diampuni Allah. Makanya dalam suatu ayat sifat itu dikumpulkan sekaligus:

"Kabarkanlah kepada hamba-hambaku, bahwa sesungguhnya Aku lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih"(QS 15:49-50)

Al-Quran secara khusus menyuruh kita meniru Allah dengan al-asmaa al-husna -Nya.

Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa ul husna itu (QS 7:80).

Kalau kita mengalami kesulitan untuk menghayati keseluruhan sifat Allah, maka pilihlah satu sifat saja yang tanpa resiko terlalu besar, yaitu sifat rahmat. Tirulah rahmat Allah. Hadist Nabi Muhammad saw. menyebutkan:

Orang-orang yang menunjukkan cinta kasih kepada sesamanya itu akan dicintai oleh Dia Yang Maha Kasih.

Cintailah mereka yang ada di bumi, maka Allah yang di langit akan mencintai kamu.

Beberapa kitab tafsir menjelaskan makna al-rahman adalah maha kasih didunia. Secara puitis al-rahmaan adalah Maha Kasih tanpa pilih kasih. Artinya biarpun hamba Nya kafir, Allah masih tetap kasih kepada mereka, Lihatlah, betapa banyak orang yang tiap hari menentang Tuhan, tetapi hidupnya sangat menyenangkan, karena kasih Allah. Ini semua terkait dengan pengetahuan dan pemahaman kita terhadap lingkungan kita.

Misalnya, nikmat kesehatan, sebagai bentuk dari rahmat Allah pada kita, tidak tergantung pada iman kita, Tidak tergantung kepada ibadah kita, tidak tergantung kepada kesalahan kita, tetapi tergantung pada seberapa jauh kita mengetahui masalah-masalah kesehatan.

Sedangkan al-rahiim adalah sifat Allah yang maha kasih di akhirat. Maka kasih Allah sebagai al-rahiim adalah atas dasar pertimbangan keimanan. Orang yang beriman akan mendapatkan rahmat Allah sebagai al-rahiim, tetapi yang tidak beriman tidak dapat. Suatu kasih yang dipertimbangkan.

Supaya berhasil meraih rahmat Allah sebagai al-rahmaan kita harus tahu syarat-syarat ilmiah sesuai dengan hukum yang berlaku di dunia ini, baik mengenai benda alam maupun pergaulan sosial manusia. Kemudian sebagai orang yang mendambakan kasih Allah di akhirat, jangan hanya dunia, maka kita harus meraih rahmat Allah sebagai al-rahiim. Setiap pekerjaan harus dilakukan dengan sepenuh pertimbangan akhlaq dan moral, suatu kualitas yang sangkut pautnya dengan masalah pahala dan dosa.

Jumat, 16 Desember 2011

Tauhid Seorang Muslim

Dengan bertuhan hanya kepada Allah SWT, yang kekuasaan-Nya memang muthlak dan benar-benar nyata, pada hakikatnya manusia akan mampu meni'mati tingkat kemedekaan yang paling tinggi, yang mungkin tercapai oleh manusia. Inilah yang dituju oleh setiap Muslim di dalam hidupnya. Setiap Muslim yang betul-betul beriman adalah manusia yang paling bebas dari segala macam bentuk keterikatan, kecuali keterikatan yang datang dari Allah Penciptanya.

Ia menghargakan kemerdekaan itu sedemikian tingginya sehingga tanpa ragu-ragu, jika perlu, ia siap mengorbankan hidupnya sendiri demi mempertahankan kemerdekaan itu. Jika hal ini terjadi, maka ia akan mendapat kehormatan yang paling tinggi dari Allah sendiri. Demikian rupa tinggi kehormatan itu, sehingga ummat Islam dilarang Allah mengatakan orang ini mati, jika ia gugur di dalam mempertahankan haknya ini. Karena walaupun tubuhnya sudah menjadi mayat, namun dalam penilaian Allah SWT orang ini tetap hidup. Apanyakah yanghidup? Tiada lain melainkan KEMANUSIAAN-nya. Bukankah sudah diterangkan di atas, bahwa nilai kemanusiaan seseorang itu sebanding dengan kemerdekaan yang dihayatinya.

Kalau seseorang telah gugur dalam mempertahankan kemerdekaannya, maka pada hakikatnya ia telah mempertahankan nilai kemanusiaannya yang sempurna, karena ia telah meletakkan hak kemerdekaannya, dus kemanusiaannya, lebih penting dari kehidupan jasmaninya. Apalah arti kehidupan jasmaniah jika nilai kemanusiaan sudah tiada. Apalah artinya kehidupan jasmani melulu, jika telah hampa akan nilai kemanusiaan yang mulia. Bukankah kehidupan hampa seperti ini oleh pepatah bangsa kita dinamakan: "bak hidup bercermin bangkai .?" Bunyi pepatah ini selengkapnya ialah: "Lebih baik mati berkalang tanah dari pada hidup bercermin bangkai". Jelas sekali bahwa nilai Islam telah lama meresap ke dalam jiwa bangsa kita, sehingga pepatah kuno ini telah bernafaskan tauhid.

Kemerdekaanlah satu-satunya nilai, yang telah ditaqdirkan Allah berfungsi untuk membedakan manusia dengan makhluk Allah yang lainnya. Sungguhlah kehidupan orang yang tidak menghayati kemerdekaan, pada hakikatnya telah menempatkan kehadirannya di dunia yang fana ini serba salah. Dikatakan manusia ia tidak punya nilai kemanusiaan (kemerdekaan), dikatakan bukan manusia tubuh dan bentuknya menggambarkan dia tepat seperti manusia.

Oleh karena itulah, maka mereka yang telah berani membayar nilai kemerdekaannya dengan mengorbankan kelangsungan hidup jasmaniahnya dinilai Allah lebih hidup dari mereka yang sekadar "bercermin bangkai" tadi. Di dalam al-Qur'an mereka yang telah gugur karena mempertahankan kemerdekaannya ini dinamakan "syahid", karena ia telah berani menjadi "saksi" akan kebenaran ajaran Allah SWT, yang mengatakan bahwa nilai kemanusiaan, yang pada hakikatnya abadi itu lebih penting dari kehidupan jasmaniah yang temporer (sementara atau fana) ini. Allah melarang ummat Islam mengatakan mereka mati, karena pada hakikatnya mereka itu hidup. Apanyakah yang masih hidup, padahal batang tubuhnya sudah tergeletak tak bergerak lagi? Mereka tetap hidup di dalam nilai kemanusiaannya (kemerdekaannya) yang abadi. Dalam ayat Allah SWT dikatakan: "Jangan engkau katakan mereka yang telah terbunuh dalam jalan Allah itu mati, karena sesungguhnya mereka itu hidup, tapi engkau tiada mengerti". (Q. 2:154)

Kehidupan yang berma'na ialah kehidupan yang bebas dari segala macam keterikatan yang tak perlu. Namun bebas sepenuhnya tidaklah mungkin bagi setiap manusia. Sebagaimana telah diterangkan di atas, bahwa setiap orang mesti memerlukan sesuatu yang dipentingkannya. Oleh karena sifat asli manusia itu haniif (cenderung kepada kebaikan/kebenaran), maka sesuatu yang dipentingkan oleh manusia itu senantiasa berupa sesuatu, yang menurut penilaiannya baik/benar. Dengan demikian maka dapat difahami, bahwa yang dipertuhankan manusia itu biasanya sesuatu yang menurut dia benar/baik.

Jadi, tuhan itu selamanya merupakan suatu kebenaran atau kebaikan bagi yang mempertuhankannya, walaupun relatif atau sementara. Di dalam pengalamannya manusia merasa terikat akan tuhan-tuhan ini sebelum tuhan-tuhan ini diperolehnya. Misalnya, orang yang bersedia bekerja keras belajar sampai kurang tidur, bahkan terlupa makan sebelum menempuh ujian untuk mendapatkan ijazah tertentu. Pada saat itu ijazah inilah yang menjadi tuhannya, karena ijazah ini telah mengatur irama hidupnya. Namun setelah ijazah berada di tangan, maka kepentingannya dan nilainya segera jatuh menjadi hampir nol.

Dari contoh ini ternyata bahwa ketuhanan ijazah ini sangat relatif. Ia mencapai nilainya yang tertinggi pada saat menjelang ia akan diperoleh. Sesudah diperoleh, maka nilainya jatuh menjadi hampir kosong. Contoh-contoh lain bisa terlihat dengan mudah di dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya ketika ia sudah mendapat ijazah yang dipentingkannya sebelumnya, maka ia mulai memikirkan bagaimana mendapatkan teman hidup atau isteri. Maka jika ia menemukan seorang gadis yang diingininya, maka ia mulai mencintai dan merindukan gadis itu. Kemanapun ia pergi dan dalam keadaan bagaimanapun ia tetap mengenang gadis kekasihnya ini.

Maka gadis inipun mulai mempengaruhi, bahkan kadang kala turut mengatur irama hidupnya. Dengan lain perkataan, gadis ini berubah menjadi tuhannya. Tingat ketuhanan gadis ini pun meningkat menjelang hari perkawinan mereka sampai kira-kira beberapa hari atau beberapa minggu setelah perkawinan itu terjadi. Sesudah itu nilai "ketuhanan" wanita ini biasanya akan menurun juga. Banyak pula pasangan suami isteri telah mulai bertengkar sebelum bulan madu mereka selesai dijalani, bahkan sampai bercerai.

Manusia memang selalu berpindah dari tuhan yang satu ke tuhan yang lain. Ketika manusia sedang lapar, maka makananlah yang mudah menjadi tuhan. Ketika sakit orang akan mempertuhankan kesehatan, walaupun ketika ia sedang sehat hampir tidak pernah menghargai kesehatan yang sedang dialaminya.

Walaupun demikian, manusia tidak mungkin mengatakan: "tidak ada tuhan", karena mengatakan: "tidak ada tuhan", samalah dengan mengatakan "tidak ada kebenaran". Sedangkan mengatakan "tidak ada kebenaran" sama dengan mengatakan "semuanya salah". Kalau semuanya salah, maka kalimat "semuanya salah" itu pun salah pula. Jadi, kalimat "tidak ada tuhan" itu menafikan dirinya sendiri.

Dari rangkaian logika ini terbukti bahwa kita tak mungkin mengatakan "tidak ada tuhan", walaupun di dalam kenyataannya, sebagaimana diuraikan dalam alinea di atas, bahwa tuhan-tuhan yang dipentingkan manusia itu sangat relatif nilainya, dan sangat tergantung kepada posisi manusia yang bersangkutan terhadapnya. Itulah kiranya alasan mengapa al-Qur'an tidak punya istilah yang artinya identik (sama benar) dengan "atheist" atau "atheisme" (faham yang menafikan adanya tuhan).

Kalimat "tidak ada tuhan" ini tidak mungkin berdiri sendiri. Kalimat itu tidak logis atau tidak dapat diterima aqal atau nonsense alias tidak bermakna. Kalimat itu hanya bisa bermakna jika ia tidak diakhiri dengan titik. Jika kalimat "tidak ada tuhan" ini diakhiri dengan koma dan ditambah menjadi "tidak ada tuhan, kecuali X", maka X menjadi satu-satunya Tuhan yang berbeda sifat dan posisinya terhadap tuhan-tuhan lainnya. Ia mau tak mau mestilah mutlak, tidak lagi relatif seperti tuhan-tuhan yang lain itu.

Karena mutlak, maka Ia mestilah unique. Kalau Ia unique, maka mestilah pula Ia berbeda dengan segala yang mungkin terpikirkan dan terbayangkan oleh manusia, walau apapun yang dinamakan X ini. Di dalam ajaran Islam X inilah yang dinamakan Allah. Perkataan Allah di dalam bahasa 'Arab sudah ada sebelum lahirnya Muhammad SAW. Allah dalam bahasa 'Arab merupakan satu-satunya kata benda (isim atau noun) yang tak punya jama'. Sedangkan kata ilahun punya "ilaahaini" (dua ilah) dan "alihatun" (tiga atau lebih ilah).

Maka ucapan "Laa ilaaha illa Allah" yang berarti "Tiada tuhan kecuali Allah" merupakan deklarasi kemerdekaan yang paling tinggi (The ultimate declaration of independence), tapi masih mungkin dicapai oleh setiap manusia. Deklarasi inilah yang membebaskan setiap manusia, yang mampu menghayatinya dengan istiqaamah (consistent), dari segala macam bentuk perbudakan dan penjajahan, termasuk penjajahan hawa nafsunya sendiri. Manusia yang menghayati deklarasi ini dengan istiqaamah adalah manusia yang paling sempurna nilai kemanusiaannya. Dalam istilah Islam manusia seperti ini dinamai "insan kamiil" atau insan sempurna. Barangkali pribadi seperti ini pulalah yang dimaksud dengan istilah "manusia seutuhnya" oleh GBHN kita.

Seorang yang telah mampu mencapai tingkat tawhid yang istiqaamah, maka seluruh irama hidupnya diatur oleh kehendak Allah SWT. Rasa lapar baginya merupakan cara Allah berkomunikasi dengan dia. Rasa lapar, yang tiada lain dari pada salah satu instinct, di dalam al-Qur'an dipakai istilah "wahyu", walaupun mestinya tidak sama dengan tingkat wahyu yang diterima para nabi dan rasul, Lihat (Q. 16:68). Maka rasa lapar ini diartikan manusia yang bertauhid sebagai signal (wahyu) dari Allah agar ia makan demi mempertahankan kelangsungan hidupnya untuk berbakti (mengabdi) kepada Allah. Oleh karena itu, makan baginya bukan sekadar mengatasi rasa lapar, tetapi demi memenuhi perintah Allah, maka pasti akan dimulainya dengan membaca basmallah.

Rasulullah telah menyatakan, bahwa orang yang makan dengan cara ini dinilai telah melakukan 'ibadah. Demikian pula dengan aktivitas lain. Misalnya, jika ia belajar bukanlah karena ingin mendapat gelar sarjana. Ia belajar karena mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya yang telah mewajibkan setiap Muslim dan Muslimat untuk belajar. Maka jiwa tauhid akan merupakan motivator utama baginya untuk bekerja keras dalam menyelesaikan studinya itu, karena belajar itu dirasakannya sama dengan 'ibadah lain yang akan mendapat ganjaran dari Allah SWT di dunia dan di akhirat nanti.

Dengan demikian, maka seorang yang istiqaamah dalam tauhidnya merasakan seluruh hidup dan kegiatan hidupnya tiada lain melainkan 'ibadah yang kontinyu kepada Allah SWT. Manusia seperti ini pasti akan mempunyai sikap dan akhlaq yang lain dari manusia biasa. Ia punya rasa tanggungjawab yang sangat tinggi, jujur, amanah, kreatif, dan berani mengambil resiko, optimis terhadap masa depan, disamping tawakkal 'ala Allah dalam melakukan setiap tugas yang berupa tantangan bagi kemampuan dirinya.

Kamis, 15 Desember 2011

Bila Cemas Mendatangi Hati

Saudaraku yang baik, kita janganlah pernah bermimpi dapat hidup dengan tenang dan bahagia sekiranya kita belum memiliki ilmu yang benar untuk mengarungi belantara dunia yang penuh dengan jebakan, rintangan dan ancaman berbahaya ini. Cobalah tengok bagaimana kisah tarzan; semua hal yang mungkin dapat menyulitkan dan menyengsarakan, ternyata hal yang mudah saja bagi sang tarzan. Karena ia memiliki kunci pokok untuk mengatasi semua masalah dan kebutuhannnya tersebut, yakni ilmu. Ya tarzan tahu ilmu tentang seluk beluk hutan dan cara mengatasinya.

Tapi bandingkan dengan orang yang masuk ke hutan tanpa tahu seluk beluk hutan, tidak tahu cara menembusnya dan bagaimana menundukan binatang buas yang berkeliaran, niscaya dirinya akan dicekam perasaan tidak tentram, cemas, was-was, dan serba takut, walaupun dia berbekal ransel penuh dengan makanan, minuman, pakaian tahan dingin, dompet penuh uang serta senjata lengkap, tetapi karena tidak berbekal ilmu maka tetap saja kecemasan mendatangi hatinya. Jadi apa sebenarnya ilmu untuk mengatasi rasa cemas dan was-was tadi? Ilmunya hanyalah satu saudaraku, yakni ilmu dari Allah, Dzat yang menciptakan dunia beserta segala isinya. Itulah Al Islam, dengan pedoman pokoknya berupa Al Qur’an dan As Sunnah. Semua rahasia kehidupan dunia dan akhirat dibeberkan dengan sempurna dan cermat di dalamnya, sehingga tidak ada satupun urusan, kecuali mesti ada rahasia jalan keluarnya.

Dengan demikian, kalau toh hidup ini kerapkali dicekam perasaan yang kacau balau dan menyengsarakan, maka penyebab pokoknya adalah karena kita kurang memahami ilmu dengan benar. Dalam sebuah hadits dinyatakan, pada suatu ketika datanglah seseorang kepada Ibnu Ma’ud r.a, sahabat Rasulullah Saw, untuk meminta nasihat. Wahai Ibnu Mas’ud, “ujarnya“ "berilah nasihat yang dapat kujadikan obat bagi jiwaku yang sedang dilanda kecemasan dan kegelisahan. Dalam beberapa hari ini aku merasa tidak tentram. Jiwaku gelisah dan pikiran pun serasa kusut, makan tak enak, tidur pun tidak nyenyak.”

Mendengar hal itu, Ibnu Mas’ud kemudian menasehatinya “Kalau penyakit seperti itu yang menimpamu, maka bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat, yaitu ke tempat orang membaca Al Qur’an, kau baca Al Qur’an atau dengarkanlah baik-baik orang yang membacanya; atau pergilah ke majelis pengajian yang mengingatkan hati kepada Allah; atau carilah waktu dan tempat yang sunyi, kemudian berkhalwatlah untuk menyembah-Nya, misalnya di tengah malam buta, ketika orang-orang sedang tidur nyenyak, engkau bangun mengerjakan shalat malam, memohon ketenangan jiwa, ketentraman pikiran dan kemurnian hati kepada-Nya. Seandainya jiwamu belum terobati dengan cara ini, maka mintalah kepada Allah agar diberi hati yang lain karena hati yang kau pakai itu bukanlah hatimu.

Setelah orang itu kembali ke rumahnya, diamalkannyalah nasihat Ibnu Mas’ud tersebut. Dia pergi mengambil air wudhu. Setelah itu, diambilnya Al Qur’an, kemudian dibacanya dengan hati yang khusyuk. Selesai membaca Al Qur’an, ternyata jiwanya berubah menjadi sejuk dan tentram, pikirannya pun menjadi tenang, sedangkan kegelisahannya hilang sama sekali. Wallahu a’lam.

Rabu, 14 Desember 2011

Cahaya Langit Dan Bumi

Siapapun akan mengatakan bahwa dalam kegelapan kita sangat membutuhkan "penerang", dian atau pelita. Dalam gelap-gulita: ketika bintang-gemintang berkilauan, sang purnama muncul dengan sinarnya merupakan nikmat besar bagi para nelayan di tengah laut. Bukan hanya menambah keindahan alam semesta, juga menandakan bahwa Allah mengerti kebutuhan hamba-Nya: kegelapan itu harus diberi penerang.

"Atau seperti gelap-gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak: yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap-gulita yang tindih-bertindih, apabila ia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya. Dan barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah ia mempunyai cahaya sedikitpun." (Qs. An-Nur [24]: 40).

Tidak dapat dibayangkan seandainya jalan-raya (di malam hari) tidak dihiasi oleh rambu-rambu lalu-lintas. Apa yang bakal terjadi? Apalagi mobil yang dikemudikan sang sopir tidak memiliki lampu. Apa yang akan dirasakan olehnya? Rasa takut segera muncul, menghantui batinnya. Jangan-jangan ada yang "menabrak" dari belakang. Atau, ada yang "menyerempet" dari samping. Itu adalah "cahaya" di dunia. Cahaya temporal: tidak kekal dan tidak abadi. Karena bahannya juga serba temporal, tidak abadi.

Ada cahaya yang abadi, Allah. Allah adalah "cahaya langit dan bumi". Dia sendiri yang menyatakan dalam kitab suci-Nya:

"Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya laksana lampion (misykat) yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca, (dan) kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur juga tidak di sebelah barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (Qs. An-Nur [24]: 35).

Itulah Allah. "Sang Cahaya". Cahaya yang menerangi jagat raya: langit dan bumi beserta isinya. Tidak ada satupun yang tidak mendapat pancaran cahaya-Nya. Tumbuh-tumbuhan, hewan, apalagi manusia: makhluk yang paling butuh kepada cahaya-Nya.

Dalam rongga dada manusia terdapat 'segumpal darah', hati. Hati itu begitu gelap, hati jahiliyah. Hati yang tidak mengenal Tuhan Yang Esa. Hati yang hanya mengenal politheisme: menyembah tiga tuhan, pepohonan, bebatuan dan roh nenek moyang. Sungguh gelap hati itu. Ia kemudian diterangi oleh cahaya tauhid-Nya. Allah itu satu:

"Fa'lam annahu laailaaha illa l-Allah" (Ketahuilah bahwa Allah itu satu). (Qs. Muhammad [48]: 19).

Ketika jiwa manusia mengembara di hutan ke-jahiliyah-an, Allah menurunkan cahaya-Nya, Al-Quran. Ia titipkan cahaya-Nya (Al-Quran) itu kepada cahaya-Nya (nabi Muhammad saw). Al-Quran adalah cahaya Allah, karena ia memberikan cahaya hidayah dari langit:

"...tetapi Kami mejadikan Alquran itu cahaya; yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki dari hamba-hamba Kami..." (Qs. Asy-Syura [42]: 52).

Kanjeng Nabi adalah "cahaya Allah", karena ia membawa penerangan kepada manusia: dengan hidayah yang dibawa dari sisi "cahaya agung", Allah swt:

"Dan untuk menjadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi..." (Qs. Al-Ahzab [33]: 46).

Tidakkah orang Arab adalah orang-orang primitif: buta aksara dan chauvistik dan suka membangga-banggakan nenek moyang. Mereka adalah para penghuni gurun pasir yang terbelakang. Namun ketika cahaya Allah (Muhammad) itu datang, semuanya jadi berubah. Padang pasir pun berubah menjadi "sumber cahaya kebenaran". Dari sanalah memancar cahaya tauhid ke seluruh penjuru dunia.

Hati yang diterangi oleh cahaya Alquran adalah hati yang "bercahaya". Jiwa yang mengikuti petunjuk Nabi saw adalah jiwa yang "bersinar". Akal yang berpikir dengan positif dan sehat, adalah akal yang bercahaya. Hati yang masih menyimpan dendam kesumat, dengki, iri dan hasad adalah hati "jahiliyah": hati yang masih gelap. Jiwa yang masih suka memberontak kepada kebenaran, menentang kebijakan, tunduk kepada hawa nafsu dan suka menentang Allah, adalah jiwa yang masih jauh dari cahaya Allah.

Kita bersyukur tidak masuk kepada golongan Abu Jahal dan Abu Lahab cs. Mereka begitu dekat dengan kedua cahaya itu (Alquran dan nabi Muhammad saw), namun mereka tidak dapat merasakan sentuhan cahayanya. Mereka mengatakan bahwa Alquran adalah perkataan penyair: Muhammad. Mereka mengira bahwa Muhammad adalah tukang tenung. Mereka dicela oleh Allah karena hati mereka tidak cukup luas untuk (dapat) menampung kedua cahaya itu:

"Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia. Dan Al-Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung, sedikit sekali kamu yang mengambil pelajaran daripadanya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. Dan sesungguhnya Alquran itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Dan sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada yang mendustakan(nya). Dan sesungguhnya Alquran itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat). Dan sesungguhnya Alquran itu benar-benar kebenaran yang diyakini. Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Agung." (Qs. Al-Haqqah [69]: 40-52).

Siapa yang menjauhi cahaya Allah, ia akan semakin teralienasi dari cahaya kehidupan. Siapa yang semakin jauh dari Alquran dan petunjuk Nabi saw, ia tidak jauh beda dengan Abu Lahab dan Abu Jahal cs. Bukankah Alquran adalah cahaya yang dipersembahkan oleh Allah kepada kita? Tidakkah Nabi saw cahaya: yang membawa cahaya (Al-Quran) langsung dari sumber cahaya (Allah)? Tidak ada cahaya yang mampu menerangi kegelapan jagat-raya, selain Allah. Dia-lah cahaya langit dan bumi.

Mari kita persiapkan diri kita untuk menghampiri cahaya Allah. Mudah-mudahan kita diberi kemudahan untuk menerima pancaran siraman cahaya-Nya. Semoga cahaya itu dapat bersinar terang di hati dan jiwa kita. Sehingga ia benar-benar menjadi "pelita" dalam kehidupan kita.

Wallahu a'lamu bi al-shawab.

New Search